Hermawansyah : Soekarno, Islam, Pancasila dan Palestina - Mata Khatulistiwa

Hermawansyah : Soekarno, Islam, Pancasila dan Palestina

Sabtu, 1 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Matakhatulistiwa. Id. – Pontianak – De-Soekarnoisasi adalah istilah untuk menyebut upaya politik mengecilkan peran dan kehadiran Ir. Soekarno dalam rekam sejarah kebangsaan Indonesia. Sebagai sebuah kebijakan, proses ini dilakukan di masa rezim Orde Baru berkuasa. Misalnya, tak pernah kita ketahui ada jalan bernama Soekarno – tanpa Hatta, padahal banyak pahlawan yang namanya diabadikan menjadi nama jalan secara tunggal. Atau berubahnya nama Soekarnopura menjadi Jayapura.Ketika Bung Karno wafat, de-Soekarnoisasi berlanjut dengan memakamkan Bung Karno di Blitar. Padahal ia mewasiatkan agar dimakamkan di tanah Priangan, tempatnya berkontemplasi hingga menemukan Marhaenisme, pandangan Sosialisme Indonesia yang berpihak pada wong cilik. Kelas masyarakat yang tertindas oleh hisapan sistem kapitalisme ulah kaum imperialis. Menurut Dr. Ahmad Basarah, Bung Karno dimakamkan di Blitar sebagai upaya mem-PKI-kan Sang Proklamator. Karena saat itu, Blitar adalah basis PKI (Ihsanuddin, 2017).Penggelapan sejarah Soekarno di masa Orde Baru juga dilakukan terhadap Pancasila. Menurut sejarawan Pimpinan Redaksi historia.id, Bonnie Triyana, ORBA menyebut Muhammad Yamin sebagai orang pertama yang mengemukakan konsep yang menjadi ideologi Indonesia ini, menggantikan peran Soekarno sebagai penggali Pancasila (Santosa, 2015). Padahal Soekarno pernah berujar, jangan sekali-kali melupakan sejarah. ORBA justru menggilas sejarah Bung Karno.Sekilas Rekonstruksi Pancasila: Historis dan EpistemologisSebagai produk sejarah, Pancasila tidak bisa dilepaskan dari rangkaian peristiwa yang melahirkannya. Pidato tanpa teks 1 Juni 1945 yang dibacakan Bung Karno di hadapan majelis sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) 1945 merupakan momentum perdana dikenalnya nama Pancasila.Setelah itu, Pancasila mengalami perkembangan pada 22 Juni 1945 menjadi naskah Piagam Jakarta oleh Tim Sembilan, hingga akhirnya disepakati menjadi teks final pada tanggal 18 Agustus 1945 (Basarah, 2017). Rentetan kejadian itu merupakan satu kesatuan proses, satu tarikan nafas, satu aliran darah: Pancasila, yang diprakarsai Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945.

Baca juga:  Syarief Abdullah Hadiri Acara Halal Bihalal di Istana Kadriah Kesultanan Pontianak

Selama periode kekuasaannya, ORBA memang berupaya mempartisi setiap peristiwa itu. Ya, itulah de-Soekarnoisasi, agar peran Soekarno menghilang dari sejarah Pancasila. Padahal, Pancasila merupakan buah pikir dari Marhaenisme yang dicetuskan pada akhir dekade 1920-an dan berkembang hingga menjelang kemerdekaan Indonesia. Pancasila merupakan hasil chemistry (persenyawaan) Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi – dalam Marhaenisme – dengan Ketuhanan – hasil ekstraksi dari pergulatan pemikiran Islam Soekarno selama hidupnya.

Sosio-Nasionalisme adalah pandangan kebangsaan Indonesia, ikatan dalam sebuah negara-bangsa (nation-state), sebuah kesadaran yang dimiliki setiap warga negara Indonesia sebagai identitas yang mempersatukan. Sosio-Demokrasi adalah demokrasi dengan orientasi keadilan sosial, kebebasan dan perlindungan dalam berserikat dan mengemukakan pendapat yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ketuhanan, menurut Dr. Fahruddin Faiz, menjadi orientasi relijius bangsa Indonesia. Senada dengan itu, Prof. Mahfud MD, mengatakan bahwa sila “Ketuhanan” merupakan hasil penggalian Bung Karno setelah melakukan pergulatan wacana mengenai hubungan negara dan agama dengan sejumlah tokoh (MD, 2017).
Pancasila merupakan miitsaaqan ghaliidzaa atau kesepakatan luhur bangsa Indonesia yang digali dan ditemukan, ucap Bung Karno, dari bumi Indonesia (MD, 2017).

Pancasila telah menjadi deal of the generation (kesepakatan generasi) masa itu, sebagai pondasi menuju cita-cita kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan berkarakter dalam budaya. Pancasila adalah kalimatun sawa’ bangsa Indonesia, tujuan akhir bagi setiap agama yang ada: kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca juga:  LAZISNU Kubu Raya Salurkan Zakat Fitrah ke Mustahik di Sejumlah Kecamatan

Karena Pancasila, Indonesia tidak menjadi salah satu dari negara agama atau negara sekuler, melainkan religious nation state, negara bangsa yang ber-Ketuhanan (MD, 2017). Maka itulah mencintai negeri ini menjadi bentuk keimanan setiap warganya – apapun latar belakang agamanya, hubb al-wathan min al-iiman.

Ketuhanan Yang Maha Esa bermakna melihat keragaman sebagai ketunggalan keberadaan, sebagaimana kosmos bukanlah keragaman yang tak terikat, melainkan ketunggalan semesta. Hanya karena keterbatasan pandangan saja yang menyebabkan kita melihat setiap keberadaan sebagai bagian yang terpisah-pisah. Indonesia pun demikian, sebuah ketunggalan dalam bhinneka, pluralitas dalam unitas.

Jika mencintai kebenaran dan keadilan, maka kita pasti membenci kebatilan dan kezaliman. Soekarno pun demikian. Kecintaannya pada kemerdekaan dan spirit kebangsaannya mewariskan sikap anti imperialisme dan kolonialisme yang tidak hanya membara di masa hidupnya semata, melainkan terus menyala hingga akhir zaman.

Soekarno menentang imperialisme yang telah menyebabkan berbagai bentuk penjajajahan di muka bumi, yang ia kristalisasikan dengan menggagas Konferensi Asia-Afrika 1955. Forum konsolidasi negara-negara yang pernah mengalami penjajahan oleh negara-negara imperialis. KAA melahirkan Dasa Sila Bandung, piagam penghargaan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan setiap bangsa di dunia.
Berdasarkan amanat UUD 1945 dan Dasa Sila Bandung, Indonesia merasa ikut bertanggungjawab atas kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah, sebagaimana yang kini masih dialami Palestina.

Baca juga:  Perkuat Soliditas Gerakan, DPD PA GMNI Kalbar Bakal Gelar Halal Bihalal Alumni dan Kader GMNI Se-Kalimantan Barat

Konstitusi kita mengamanatkan Indonesia untuk berperan aktif dalam perdamaian dunia dan menghapus penjajahan dari muka bumi. Indonesia masih mewarisi api anti imperialisme, sebagaimana yang disampaikan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dengan sangat jernih di Sidang Majelis Umum PBB tanggal 20 Mei 2021, “Kami hadir di sini untuk berjuang atas nama kemanusiaan. Berjuang bagi keadilan masyarakat Palestina.”

Dua pondasi di atas – UUD 1945 dan Dasa Sila Bandung – berpangkal dari Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa menolak tindakan imperialisme, karena imperialisme merupakan manifestasi penentangan terhadap Tuhan yang memberikan kemerdekaan kepada manusia. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab menolak imperialisme, karena imperialisme adalah wujud penghinaan terhadap kemanusiaan.

Persatuan Indonesia menolak imperialisme, karena imperialisme hidup dengan melakukan perpecahan (divide et impera). Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan menentang imperialisme, karena imperialisme dipimpin oleh arogansi, kepicikan dan kelicikan. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menentang imperialisme, karena imperialisme adalah bentuk kezaliman yang pernah mengungkung Indonesia selama lebih dari 350 tahun.

Sejak masa Bung Karno, posisi moral dan politik Indonesia sangat tegas mendukung Palestina sebagai mandat konstitusi, bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Mandat yang pernah diucapkan dengan lantang oleh Bung Karno: “Selama kemerdekaan bangsa Palestina tidak diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itu pula bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel.”

Berita Terkait

Syarief Abdullah Tinjau Progres Jembatan Gantung Simpang Raya–Kanan serta Pembangunan Jalan Desa Durian Puguk demi Mempercepat Kebangkitan Ekonomi.
Syarief Abdullah Alkadrie Kebut Pembangunan Gedung DPW NasDem Kalbar: Target Segera Beroperasi
Isi Tausiah di Gemar Subuh Berjamaah, Ustadz Abdussyukur Kupas 4 Ujian Hidup dalam Surat Al-Kahfi
Syarief Abdullah Alkadrie Gelar Sosialisasi 4 Pilar di Pontianak Timur, Serap Aspirasi Warga Terkait Infrastruktur
Perkokoh Persatuan, Syarief Abdullah Alkadrie Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan di Jawai
LAZISNU Kubu Raya Salurkan Zakat Fitrah ke Mustahik di Sejumlah Kecamatan
Penutupan Festival Musik Bangun Sahur Berlangsung Meriah
Ingin Bahagiakan Masyarakat, Bupati Sujiwo Gelar Mancing Gratis Selama Ramadhan.

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 10:51

Syarief Abdullah Alkadrie Kebut Pembangunan Gedung DPW NasDem Kalbar: Target Segera Beroperasi

Rabu, 15 April 2026 - 14:19

Kader dan Simpatisan NasDem Kalbar Gelar Aksi, Mendesak Tempo Minta Maaf Secara Terbuka

Sabtu, 11 April 2026 - 20:26

Syarief Abdullah Alkadrie Gelar Silaturrahmi Bersama Relawan dan Sampaikan Pilar Kebangsaan

Rabu, 18 Maret 2026 - 09:27

Penutupan Festival Musik Bangun Sahur Berlangsung Meriah

Rabu, 11 Februari 2026 - 06:37

Rajut Harmoni Bangsa, Syarief Abdullah Gandeng Laskar Madura dan Santri Abdussalam Bumikan Nilai Pancasila.

Senin, 9 Februari 2026 - 13:19

Demokrat Tegaskan Pertemuan dengan Jokowi Nihil Bahasan Ijazah Palsu, Hanya Salam Hangat.

Minggu, 8 Februari 2026 - 09:41

PDI Perjuangan Berikan Respon PKB dan PAN Dukung Prabowo: Kami Hargai Independensi Partai.

Sabtu, 7 Februari 2026 - 06:10

Menembus Abad: Visi Besar Don Dasco di HUT ke-18 Gerindra Menjaga Negeri.

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x