Pontianak — Penyebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda Kalimantan Barat, khususnya Kota Pontianak, menuai keprihatinan serius dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Pontianak. Ketua Cabang PMII Kota Pontianak menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh dipandang sebagai persoalan musiman semata, melainkan ancaman yang berdampak langsung pada kesehatan dan perekonomian masyarakat.
Menurutnya, kualitas udara yang memburuk telah merampas hak dasar warga untuk menghirup udara bersih. Dampak kesehatan pun kian terasa, terutama meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling rentan dialami oleh anak-anak, lansia, serta kelompok masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu. Aktivitas masyarakat terganggu, dan kesehatan masyarakat terancam.
“Ini bukan sekadar kabut asap, tetapi ancaman nyata bagi keselamatan publik. Ketika masyarakat dipaksa hidup dalam udara yang tidak sehat, maka pemerintah wajib hadir secara serius dan menyeluruh,” tegas Ketua Cabang PMII Kota Pontianak.
Selain berdampak pada kesehatan, asap karhutla juga menekan roda perekonomian rakyat. Sektor informal seperti pedagang kecil, pekerja harian, dan pelaku UMKM merasakan penurunan pendapatan akibat terbatasnya aktivitas di luar ruangan. Kondisi ini semakin memperlemah daya tahan ekonomi masyarakat kecil yang sejak awal berada pada posisi paling rentan.
PMII Kota Pontianak menilai bahwa penanganan karhutla harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Pemerintah didorong untuk tidak hanya bersikap reaktif, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan, serta memastikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat terdampak.
“Kami mengajak seluruh elemen, baik pemerintah, aparat penegak hukum, dunia usaha, maupun masyarakat, untuk bergandengan tangan menghadapi persoalan ini. Pencegahan karhutla, kepedulian terhadap lingkungan, serta solidaritas sosial harus menjadi gerakan bersama,” lanjutnya.
PMII Kota Pontianak juga menyerukan agar masyarakat aktif melaporkan indikasi pembakaran lahan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan, sembari mendorong pemerintah menyediakan layanan kesehatan, masker, dan informasi yang memadai bagi publik.
“Keselamatan rakyat harus menjadi prioritas utama. Hanya dengan kolaborasi yang kuat dan komitmen bersama, Kalimantan Barat—khususnya Pontianak—dapat terbebas dari ancaman asap dan kembali pada kehidupan dengan udara yang sehat.” tutupnya.
Penulis : Bdw












