Kabut asap yang menyelimuti langit Kalimantan Barat bukan lagi fenomena musiman yang asing. Hampir setiap tahun, ketika kemarau panjang melanda, api kembali membakar lahan gambut dan hutan di berbagai kabupaten. Peristiwa ini bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga persoalan sosial, ekonomi, dan kesehatan yang dampaknya dirasakan lintas generasi.
Memahami penyebab kebakaran hutan dan lahan menjadi langkah awal yang krusial. Tanpa mengetahui akar masalahnya, upaya pencegahan hanya akan berputar pada respons darurat semata. Berikut ulasan lengkap mengenai penyebab, dampak, hingga langkah yang bisa kita lakukan bersama.
Mengapa Kebakaran Hutan dan Lahan Terus Berulang?
Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat, hampir selalu melibatkan kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Namun, para ahli menegaskan bahwa faktor manusia mendominasi lebih dari 90 persen kejadian kebakaran. Alam hanya memperbesar skalanya ketika cuaca ekstrem datang.
Berikut sejumlah penyebab utama yang perlu kita pahami bersama.
1. Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar
Metode slash and burn masih dianggap cara paling murah dan cepat untuk membersihkan lahan. Sebagian pelaku adalah korporasi yang ingin menekan biaya, sebagian lain petani kecil yang terhimpit keterbatasan modal. Abu pembakaran memang menyuburkan tanah, tetapi harganya terlalu mahal bagi lingkungan.
Masalahnya, api di lahan gambut tidak padam di permukaan. Ia menjalar perlahan di bawah tanah, bertahan berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, dan sulit dideteksi dari atas.
2. Kondisi Lahan Gambut yang Kering
Kalimantan Barat memiliki hamparan gambut yang luas. Ketika drainase dibuat untuk perkebunan, gambut kehilangan kemampuan menyimpan air. Pada musim kemarau, lapisan gambut mengering dan berubah menjadi bahan bakar alami yang sangat mudah terbakar.
Ditambah kandungan karbonnya yang tinggi, gambut kering menghasilkan asap pekat dan emisi besar saat terbakar.
3. Fenomena El Nino dan Kemarau Panjang
El Nino memicu curah hujan rendah dan suhu udara tinggi. Kondisi ini menciptakan cuaca yang kondusif bagi api untuk menyebar cepat. Banyak titik panas muncul serentak dan melampaui kapasitas petugas pemadaman di lapangan.
4. Praktik Ilegal dan Kelalaian
Selain pembukaan lahan, kebakaran juga kerap dipicu oleh pembuangan puntung rokok sembarangan, pembakaran sampah, aktivitas camping yang tidak terkendali, serta percikan api dari kegiatan pertambangan atau pembukaan jalan. Kelalaian kecil di tengah lahan kering bisa berubah menjadi bencana besar.
5. Lemahnya Pengawasan dan Penegakan Hukum
Luasnya wilayah yang harus diawasi tidak sebanding dengan jumlah personel dan infrastruktur pengawasan. Akibatnya, praktik pembakaran sulit dibuktikan di lapangan, sehingga efek jera menjadi lemah dan kejadian serupa berulang tahun berikutnya.
Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan bagi Lingkungan
Kerusakan yang ditimbulkan karhutla jauh melampaui luas area yang terbakar. Dampaknya merambat ke ekosistem, iklim, dan kehidupan manusia.
Polusi Udara dan Krisis Kesehatan
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, dan senyawa berbahaya lain. Kabut asap memicu ISPA, memperburuk asma, dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Sekolah diliburkan, penerbangan tertunda, dan aktivitas warga lumpuh berhari-hari.
Kehilangan Keanekaragaman Hayati
Hutan Kalimantan adalah rumah bagi orangutan, bekantan, berbagai jenis burung, dan flora endemik. Ketika api membakar, satwa kehilangan habitat, sumber pakan, dan jalur migrasi. Spesies yang populasinya sudah terbatas berada di ambang kepunahan.
Emisi Karbon dan Percepatan Perubahan Iklim
Lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah raksasa. Saat terbakar, karbon itu lepas ke atmosfer dalam hitungan jam. Indonesia tercatat sebagai salah satu penyumbang emisi global terbesar pada tahun-tahun karhutla parah. Ini menjadi lingkaran setan: kebakaran memperparah pemanasan global, dan pemanasan global memperbesar peluang kebakaran berikutnya.
Kerusakan Tanah dan Krisis Air
Api menghilangkan lapisan humus dan mikroorganisme penyubur tanah. Lahan bekas terbakar menjadi gundul, mudah tererosi, dan rawan banjir saat hujan datang. Pada gambut, kerusakan bersifat hampir permanen karena butuh puluhan tahun untuk pulih.
Kerugian Ekonomi dan Sosial
Penutupan bandara, terganggunya distribusi barang, hilangnya hasil panen, dan biaya pemadaman menjadi beban besar. Nelayan di pesisir juga terdampak karena asap mengganggu jarak pandang dan kualitas air. Warga yang paling rentan—anak, lansia, dan kelompok berpenghasilan rendah—menanggung beban terberat.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Karhutla bukan takdir. Ada banyak upaya yang dapat dilakukan bersama antara pemerintah, korporasi, dan masyarakat.
- Tanpa Bakar dalam Membuka Lahan. Dorong penggunaan metode mekanis dan pemanfaatan limbah organik sebagai kompos.
- Restorasi dan Pembasahan Gambut. Menutup kanal drainase, membangun sekat kanal, serta menanam kembali lahan bekas terbakar.
- Penguatan Sistem Deteksi Dini. Manfaatkan data titik panas satelit dan aplikasi pelaporan warga untuk memantau indikasi api.
- Peningkatan Kapasitas Masyarakat Peduli Api. Pelatihan pemadaman skala kecil di desa-desa rawan agar api tidak membesar.
- Penegakan Hukum yang Konsisten. Sanksi tegas bagi pelaku pembakaran, tanpa pandang status atau kepentingan usaha.
- Edukasi Publik Berkelanjutan. Kampanye kesadaran lingkungan lewat sekolah, media, dan ruang keagamaan.
Kesimpulan
Kebakaran hutan dan lahan adalah persoalan multidimensi yang berakar pada pola pikir instan dan lemahnya tata kelola. Faktor alam seperti El Nino memang memperburuk keadaan, tetapi keputusan manusia—membuka lahan dengan api, abai terhadap lingkungan—tetap menjadi pemicu utamanya. Dampaknya pun tidak berhenti pada asap dan bau terbakar, melainkan menyentuh kesehatan masyarakat, hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan tanah gambut, dan mempercepat krisis iklim global.
Sebagai media yang tumbuh di bumi Khatulistiwa, Mata Khatulistiwa.id percaya bahwa informasi yang berimbang dan faktual adalah awal dari perubahan. Jangan tunggu api membesar untuk bereaksi. Mari mulai dari langkah kecil di sekitar kita: tidak membakar lahan, melaporkan titik api, menjurnal hari ini.
Punya cerita atau data soal karhutla di wilayah Anda? Bagikan informasi tersebut kepada redaksi Mata Khatulistiwa.id. Bersama, kita jaga Kalimantan Barat tetap hijau dan bebas kabut asap.








