Pentingnya Pemulihan Ekosistem Gambut untuk Mengurangi Risiko Karhutla

Kamis, 5 November 2026 - 07:54 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) nyaris menjadi “ritual” tahunan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Barat. Asap yang menyelimuti langit, aktivitas warga yang terhenti, hingga gangguan kesehatan menjadi pemandangan yang berulang setiap musim kemarau. Di balik persoalan itu, ada satu faktor yang sering luput dari perhatian publik: kondisi ekosistem gambut yang telah rusak.

Gambut bukan sekadar tanah basah biasa. Ia adalah penyimpan karbon raksasa, penjaga cadangan air, dan rumah bagi keanekaragaman hayati. Ketika gambut rusak dan mengering, ia berubah menjadi bahan bakar yang siap menyala. Karena itu, pemulihan ekosistem gambut bukan pilihan, melainkan keharusan jika kita ingin mengurangi risiko karhutla secara berkelanjutan.

Mengapa Gambut Begitu Rentan Terbakar?

Lahan gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang terurai sangat lambat selama ratusan hingga ribuan tahun. Kandungan airnya yang tinggi membuat gambut alami hampir mustahil terbakar. Namun, ketika drainase dibuat untuk perkebunan atau pembukaan lahan, air gambut terkuras dan lapisan permukaannya mengering.

Dalam kondisi kering, gambut menjadi biornassa yang mudah terbakar dan api dapat merambat di bawah permukaan tanah. Inilah yang disebut sebagai ground fire atau kebakaran bawah tanah. Api jenis ini sangat sulit dipadamkan karena bersembunyi di lapisan gambut, muncul kembali di titik lain, dan bertahan berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Dampaknya pun berlipat. Selain menghasilkan asap pekat dalam jumlah besar, kebakaran gambut melepaskan emisi karbon yang tersimpan ribuan tahun dalam hitungan jam. Belum lagi kerugian ekonomi, terganggunya penerbangan, penutupan sekolah, dan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di masyarakat.

Baca juga:  Manfaat Pendidikan Vokasi untuk Mempersiapkan Lulusan Memasuki Dunia Kerja

Apa Itu Pemulihan Ekosistem Gambut?

Pemulihan ekosistem gambut adalah upaya sistematis untuk mengembalikan fungsi hidrologis dan ekologis gambut yang telah rusak. Pendekatan yang paling dikenal adalah 3R: Rewetting (pembasahan kembali), Revegetation (penanaman kembali), dan Revitalization (pemberdayaan masyarakat).

Di Indonesia, kerangka ini diadaptasi menjadi pendekatan 3S: Basah, Tanam, Kelola. Ketiga langkah tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain karena keberhasilan restorasi bergantung pada keseimbangan antara perbaikan tata air, pemulihan tutupan vegetasi, dan dukungan mata pencaharian warga sekitar.

1. Basah — Membasahi Kembali Lahan Gambut

Langkah pertama adalah menutup kanal-kanal drainase agar air tetap tertahan di lahan gambut. Caranya bisa dengan sekat kanal (canal blocking) maupun sumur bor yang mengisi kembali lapisan gambut. Tujuannya sederhana: menjaga permukaan air tanah tetap tinggi sehingga gambut tidak mengering dan sulit terbakar.

2. Tanam — Menghidupkan Kembali Vegetasi

Setelah tata air membaik, lahan gambut ditanami kembali dengan jenis-jenis lokal yang adaptif, seperti jelutung, sagu, rambutan, atau tanaman hortikultura yang tidak memerlukan drainase dalam. Vegetasi ini berfungsi menjaga kelembapan, menahan air, sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

3. Kelola — Memberdayakan Masyarakat Sekitar

Restorasi tidak akan bertahan lama tanpa keterlibatan warga. Melalui skema agrosilvofishery atau budidaya tanpa bakar, masyarakat memperoleh alternatif penghasilan yang tidak merusak gambut. Di sinilah kunci perubahan perilaku: dari membuka lahan dengan api menjadi mengelola lahan secara lestari.

Peran Restorasi dalam Menekan Risiko Karhutla

Secara teknis, hubungan antara restorasi gambut dan penurunan risiko karhutla sangat jelas. Lahan gambut yang basah dan tertutup vegetasi memiliki kadar air tinggi sehingga sulit tersulut api. Sebaliknya, gambut kering yang terbuka akan menjadi titik api yang sulit dikendalikan.

Baca juga:  Faktor yang Memengaruhi Daya Beli Masyarakat: Dari Pendapatan hingga Kebijakan Ekonomi

Beberapa manfaat nyata restorasi gambut dalam konteks pencegahan karhutla antara lain:

  • Menekan jumlah titik panas (hotspot) pada lahan yang telah dibasahi kembali.
  • Mengurangi kedalaman dan durasi kebakaran bawah tanah sehingga api lebih cepat dipadamkan.
  • Menjaga cadangan air yang bisa dimanfaatkan untuk pemadaman awal oleh masyarakat.
  • Memulihkan kelembapan mikro dan menurunkan suhu permukaan lahan.
  • Mengurangi emisi karbon sekaligus mendukung target iklim nasional (NDC).

Data dari berbagai program restorasi menunjukkan bahwa lahan gambut yang telah disekat kanalnya cenderung lebih tahan terhadap kekeringan ekstrem. Artinya, investasi pada restorasi adalah investasi jangka panjang untuk pencegahan, bukan sekadar penanganan darurat saat asap sudah mengepul.

Tantangan Restorasi di Kalimantan Barat

Kalimantan Barat memiliki hamparan gambut yang cukup luas, tersebar di wilayah seperti Kubu Raya, Mempawah, Sambas, Bengkayang, hingga Ketapang. Sayangnya, sebagian telah terdegradasi akibat alih fungsi lahan, perkebunan monokultur, dan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.

Tantangan yang dihadapi tidak sederhana. Mulai dari status kepemilikan lahan yang tumpang tindih, keterbatasan anggaran perawatan sekat kanal, hingga masih adanya praktik bakar murah yang dianggap menguntungkan secara ekonomi. Belum lagi faktor iklim, seperti fenomena El Nino, yang memperpanjang musim kemarau dan memperparah kekeringan gambut.

Karena itu, restorasi gambut membutuhkan kolaborasi lintas sektor: pemerintah daerah, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Manggala Agni, kepolisian, akademisi, dunia usaha, hingga kelompok masyarakat peduli api (MPA) di tingkat desa.

Baca juga:  Diseret ke Jalur Hukum, Pandji Pragiwaksono Tak Gentar: 'Mens Rea' Jalan Terus!

Peran Masyarakat dan Media dalam Restorasi Gambut

Restorasi gambut tidak bisa hanya mengandalkan program pemerintah. Masyarakat memiliki peran kunci, dimulai dari hal-hal sederhana seperti tidak membuka lahan dengan membakar, melaporkan titik api, hingga terlibat dalam perawatan sekat kanal.

Media pun mengambil peran penting sebagai jembatan informasi. Pemberitaan yang berimbang dan edukatif dapat mendorong kesadaran publik bahwa gambut yang sehat berarti udara yang bersih dan kehidupan yang lebih aman dari ancaman karhutla. Di sinilah Mata Khatulistiwa hadir sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif tersebut.

Kesimpulan

Pemulihan ekosistem gambut adalah salah satu strategi paling efektif untuk mengurangi risiko karhutla di Kalimantan Barat dan Indonesia secara umum. Dengan menjaga gambut tetap basah, menanam kembali vegetasi, dan memberdayakan masyarakat, kita tidak hanya mencegah kebakaran, tetapi juga melindungi iklim, kesehatan, dan perekonomian daerah.

Karhutla bukan takdir tahunan yang harus diterima. Ia adalah persoalan yang bisa dicegah, dimulai dari cara kita memperlakukan lahan gambut hari ini. Restorasi gambut adalah warisan untuk generasi berikutnya — sebuah langkah kecil di lapangan yang berdampak besar bagi kualitas udara dan kehidupan kita bersama.

Mari mulai dari kesadaran diri: kenali lahan gambut di sekitar kita, dukung program restorasi, dan sebarkan informasi yang benar. Ikuti terus liputan Mata Khatulistiwa tentang lingkungan dan isu khatulistiwa lainnya, serta jadilah bagian dari gerakan menjaga bumi Khatulistiwa dari asap dan api.

Follow WhatsApp Channel matakhatulistiwa.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pentingnya Penyimpanan Hasil Panen untuk Mengurangi Kerugian Petani
Peluang Pengembangan Komoditas Pangan Lokal untuk Mengurangi Ketergantungan Pasokan dari Luar Daerah
Cara Meningkatkan Produktivitas Pertanian melalui Pengelolaan Lahan yang Tepat
Tantangan Distribusi Pupuk kepada Petani di Wilayah Pedesaan
Pentingnya Sanitasi Layak bagi Kesehatan Lingkungan Permukiman
Peran Infrastruktur Air Bersih dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat
Tantangan Pembangunan Jembatan di Wilayah dengan Kondisi Geografis Sulit
Pentingnya Pemeliharaan Jalan untuk Menjaga Konektivitas Antarwilayah
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 22:54 WIB

Pentingnya Penyimpanan Hasil Panen untuk Mengurangi Kerugian Petani

Jumat, 6 November 2026 - 21:57 WIB

Peluang Pengembangan Komoditas Pangan Lokal untuk Mengurangi Ketergantungan Pasokan dari Luar Daerah

Jumat, 6 November 2026 - 20:54 WIB

Cara Meningkatkan Produktivitas Pertanian melalui Pengelolaan Lahan yang Tepat

Jumat, 6 November 2026 - 19:54 WIB

Tantangan Distribusi Pupuk kepada Petani di Wilayah Pedesaan

Jumat, 6 November 2026 - 18:54 WIB

Pentingnya Sanitasi Layak bagi Kesehatan Lingkungan Permukiman

Berita Terbaru

Bengkayang

Tantangan Distribusi Pupuk kepada Petani di Wilayah Pedesaan

Jumat, 6 Nov 2026 - 19:54 WIB

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x