Pentingnya Rehabilitasi Lahan Kritis untuk Memulihkan Ekosistem

Rabu, 4 November 2026 - 17:54 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi dengan bentang alam paling kaya di Indonesia. Hutan hujan tropis, daerah aliran sungai (DAS) Kapuas, kawasan gambut, hingga mangrove pesisir menjadi rumah bagi ribuan jenis flora dan fauna sekaligus penopang hidup masyarakat. Namun di balik kekayaan itu, tekanan terhadap lahan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Alih fungsi lahan, pembukaan kebun monokultur, aktivitas tambang, hingga kebakaran lahan berulang membuat sebagian kawasan berubah menjadi lahan kritis. Kondisi ini bukan sekadar persoalan tutupan vegetasi yang berkurang, melainkan ancaman nyata bagi keseimbangan ekosistem, ekonomi warga, dan kualitas hidup generasi mendatang.

Di sinilah rehabilitasi lahan kritis menjadi langkah yang tidak bisa ditawar. Ia bukan program seremonial, tetapi investasi jangka panjang untuk memulihkan fungsi ekologis yang selama ini menopang kehidupan di bumi khatulistiwa.

Apa Itu Lahan Kritis dan Mengapa Menjadi Ancaman?

Lahan kritis adalah lahan yang telah mengalami kerusakan sehingga kehilangan sebagian atau seluruh fungsi hidrologis, produktivitas, dan daya dukungnya sebagai penyangga kehidupan. Kerusakan ini bisa terjadi karena faktor alam, tetapi lebih sering dipicu aktivitas manusia.

Beberapa penyebab utama yang kerap ditemui di Kalimantan Barat antara lain:

  • Pembukaan lahan dengan cara dibakar, terutama pada kawasan gambut yang rentan dan sulit dipulihkan.
  • Penebangan liar dan perambahan hutan tanpa disertai upaya regenerasi.
  • Alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan, tambang, atau permukiman tanpa perencanaan tata ruang yang ketat.
  • Praktik pertanian yang tidak menerapkan kaidah konservasi, sehingga lapisan topsoil terkikis erosi.
  • Kebakaran lahan berulang yang menghilangkan serasah, mikroba tanah, dan cadangan benih alami.
Baca juga:  Pelaku Terduga Kasus Pemalsuan Dokumen Usaha Pertambangan Di Morowali, Resmi di Tahan Polda Sulteng

Ketika vegetasi penutup hilang, tanah kehilangan kemampuan menahan air. Air hujan langsung mengalir ke sungai membawa sedimen, memicu banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Dua musim ekstrem yang datang silih berganti kini kian terasa di banyak kabupaten.

Dampak Lahan Kritis bagi Ekosistem dan Kehidupan Sehari-hari

Kerusakan lahan tidak berhenti pada satu titik. Ia menjalar ke seluruh sistem, dari hulu hingga hilir, dari ekologi hingga sosial ekonomi.

1. Hilangnya keanekaragaman hayati

Hutan yang terdegradasi kehilangan kanopi, pohon pakan, dan jalur jelajah satwa. Populasi orangutan, bekantan, burung enggang, dan berbagai jenis reptil ikut tertekan karena habitatnya menyempit. Kepunahan lokal pun sulit dihindari.

2. Banjir dan kekeringan yang makin sering

DAS Kapuas dan anak-anak sungainya menanggung beban ini. Ketika hulu rusak, debit air tidak lagi terkendali. Permukiman di tepian sungai harus menghadapi banjir yang datang lebih cepat dan surut lebih lama.

3. Emisi karbon dan krisis iklim

Lahan gambut yang kering menjadi sumber emisi besar saat terbakar. Padahal gambut menyimpan karbon jauh lebih banyak dibanding hutan mineral. Rehabilitasi berarti juga menutup keran emisi yang terus terbuka.

4. Kerugian ekonomi masyarakat

Petani di lahan kritis menghadapi produktivitas rendah, biaya pupuk meningkat, dan risiko gagal panen lebih tinggi. Nelayan pesisir terdampak sedimentasi dan rusaknya mangrove yang menjadi tempat berkembang biak ikan dan udang.

Baca juga:  Hak Masyarakat untuk Mendapatkan Informasi Publik: Pilar Demokrasi yang Wajib Dijaga

Rehabilitasi Bukan Sekadar Menanam Pohon

Sering kali rehabilitasi dipahami sebagai kegiatan menanam bibit lalu selesai. Padahal, menanam hanyalah satu tahap. Keberhasilan rehabilitasi ditentukan oleh pemilihan jenis yang sesuai tapak, perawatan berkelanjutan, dan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik manfaat jangka panjang.

Di lahan gambut, misalnya, jenis yang tepat adalah tanaman adaptif seperti jelutung, ramin, atau pulai yang tidak membutuhkan drainase dalam. Di lahan pesisir yang terabrasi, mangrove dan nipah menjadi pilihan utama. Sementara di lahan bekas tambang, diperlukan tanaman pionir yang mampu tumbuh di tanah miskin hara sebelum jenis lain ditanam.

Tanpa pendekatan yang sesuai kondisi lokal, upaya rehabilitasi hanya akan menjadi angka serapan bibit di atas kertas, bukan pemulihan ekosistem yang nyata.

Langkah Strategis Rehabilitasi Lahan Kritis yang Efektif

  1. Pemetaan dan inventarisasi. Tentukan lokasi prioritas berdasarkan tingkat kerusakan, fungsi kawasan, dan tingkat ancaman bencana.
  2. Penyusunan rencana berbasis lanskap. Rehabilitasi tidak boleh berhenti di batas administratif, tetapi mengikuti bentang DAS dan ekosistem.
  3. Penyediaan bibit berkualitas. Persemian permanen dan kebun benih rakyat membantu menjamin ketersediaan bibit lokal yang sehat.
  4. Pelibatan masyarakat dan kearifan lokal. Skema perhutanan sosial, hutan adat, dan agroforestri memberi insentif sekaligus menjaga keberlanjutan tanaman.
  5. Pemeliharaan dan monitoring. Perawatan minimal dua sampai tiga tahun pertama menjadi penentu, disertai evaluasi berkala dan pemantauan berbasis data.
  6. Penegakan hukum dan tata kelola. Tanpa pengendalian alih fungsi lahan, rehabilitasi hanya akan berjalan di tempat.
Baca juga:  Penuh Khidmat, Syarief Abdullah Alkadrie Hadiri Haul Akbar ke-10 Habib Amin bin Muhsin Alhinduan

Kolaborasi Semua Pihak adalah Kunci

Rehabilitasi lahan kritis tidak mungkin dikerjakan pemerintah sendirian. Perlu sinergi antara pemerintah daerah, perusahaan pemegang izin yang wajib menjalankan reklamasi, akademisi, organisasi masyarakat sipil, komunitas adat, dan warga sekitar.

Media juga memegang peran penting: menyampaikan informasi yang berimbang, mengawal transparansi program, sekaligus mengangkat kisah sukses masyarakat yang berhasil menghijaukan kembali lahannya. Informasi yang faktual akan mendorong partisipasi publik yang lebih luas.

Kesimpulan

Lahan kritis adalah cermin dari cara kita mengelola alam. Memulihkannya bukan pekerjaan satu musim, melainkan komitmen lintas generasi yang menuntut perencanaan matang, pendekatan ekologis, dan pelibatan masyarakat. Setiap hektare yang pulih berarti berkurangnya risiko banjir, terjaganya sumber air, dan harapan baru bagi keanekaragaman hayati Kalimantan Barat.

Pemulihan ekosistem bukan biaya, melainkan warisan. Mari mulai dari langkah kecil di sekitar kita: menanam dan merawat pohon, menjaga lahan dari kebakaran, serta mendukung program rehabilitasi yang berkelanjutan.

Punya cerita atau data tentang kondisi lahan di daerah Anda? Sampaikan kepada redaksi Mata Khatulistiwa melalui kanal yang tersedia, dan ikutlah menjadi bagian dari gerakan pemulihan ekosistem bumi khatulistiwa.

Follow WhatsApp Channel matakhatulistiwa.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peluang Pengembangan Komoditas Pangan Lokal untuk Mengurangi Ketergantungan Pasokan dari Luar Daerah
Cara Meningkatkan Produktivitas Pertanian melalui Pengelolaan Lahan yang Tepat
Tantangan Distribusi Pupuk kepada Petani di Wilayah Pedesaan
Pentingnya Sanitasi Layak bagi Kesehatan Lingkungan Permukiman
Peran Infrastruktur Air Bersih dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat
Tantangan Pembangunan Jembatan di Wilayah dengan Kondisi Geografis Sulit
Pentingnya Pemeliharaan Jalan untuk Menjaga Konektivitas Antarwilayah
Dampak Kerusakan Jalan terhadap Biaya Transportasi dan Harga Barang
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 21:57 WIB

Peluang Pengembangan Komoditas Pangan Lokal untuk Mengurangi Ketergantungan Pasokan dari Luar Daerah

Jumat, 6 November 2026 - 20:54 WIB

Cara Meningkatkan Produktivitas Pertanian melalui Pengelolaan Lahan yang Tepat

Jumat, 6 November 2026 - 19:54 WIB

Tantangan Distribusi Pupuk kepada Petani di Wilayah Pedesaan

Jumat, 6 November 2026 - 18:54 WIB

Pentingnya Sanitasi Layak bagi Kesehatan Lingkungan Permukiman

Jumat, 6 November 2026 - 17:54 WIB

Peran Infrastruktur Air Bersih dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat

Berita Terbaru

Bengkayang

Tantangan Distribusi Pupuk kepada Petani di Wilayah Pedesaan

Jumat, 6 Nov 2026 - 19:54 WIB

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x