Gotong Royong Dan Perhitungan Kalender Jawa Jadi Kunci Adaptasi Petani Sapen Jateng di Era Perubahan Iklim - Mata Khatulistiwa

Gotong Royong Dan Perhitungan Kalender Jawa Jadi Kunci Adaptasi Petani Sapen Jateng di Era Perubahan Iklim

Rabu, 31 Juli 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Matakhatulistiwa.id – JATENG – Di tengah gempuran perubahan iklim yang mengancam sektor pertanian, sekelompok petani di Desa Sapen, Kec. Mojolaban, Kab. Sukoharjo, Jawa Tengah memiliki ‘senjata rahasia’ untuk bertahan: kearifan lokal. Gotong royong dan penanggalan Jawa menjadi kunci keberhasilan mereka menghadapi tantangan alam yang semakin tak terduga.

Pagi itu, embun masih membasahi pucuk-pucuk padi di hamparan sawah Desa Sapen. Sarono, seorang bayan di Dusun Celungan, berdiri tegak memandangi hasil kerja keras warga desanya. “Dulu, kami bisa menebak kapan musim hujan atau kemarau datang. Sekarang? Cuaca benar-benar sulit diprediksi,” ujarnya sambil menggelengkan kepala.

Perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, tapi realita yang harus dihadapi para petani saat ini. Namun, Desa Sapen memiliki cara unik untuk beradaptasi. Bukannya menyerah pada ketidakpastian, mereka justru menggali kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

Baca juga:  BPJPH Kemenag Gelar Pengawasan JPH Serentak di 1.068 Lokasi, Incar Sektor RPH dan RPU

“Gotong royong adalah kunci,” jelas Sarono dengan mata berbinar. “Kami menanam padi secara serentak dan saling membantu dalam perawatannya. Dengan begitu, hama yang semakin beragam akibat perubahan iklim lebih mudah dikendalikan.”

Strategi ini terbukti efektif. Ketika satu petani menemukan tanda-tanda serangan hama, informasi segera menyebar ke seluruh desa. Dalam hitungan jam, seluruh petani sudah siap siaga dengan tindakan pencegahan. “Ini bukan hanya soal bertani, tapi juga menjaga kebersamaan,” tambah Sarono.

Namun, gotong royong bukanlah satu-satunya ‘senjata’ yang dimiliki petani Sapen. Mereka juga masih setia menggunakan penanggalan Jawa untuk menentukan waktu tanam yang tepat. “Nenek moyang kami sudah menggunakan metode ini selama berabad-abad. Ternyata, di tengah kebingungan akibat perubahan iklim, penanggalan Jawa masih relevan,” ungkap Sarono.

Baca juga:  Gibran Sebut Mahfud dan Cak Imin Kurang Paham, Kok Bisa?

Meski cuaca semakin sulit diprediksi, petani Sapen tidak khawatir soal pengairan. Mereka telah mengantisipasi dengan penggunaan sumur dalam, sehingga pasokan air tetap terjamin meski tidak mengandalkan irigasi.

Kesuksesan petani Sapen membuktikan bahwa kearifan lokal bukan sekadar tradisi kuno yang usang. Di tangan mereka, warisan leluhur bertransformasi menjadi solusi inovatif menghadapi tantangan global. Sementara dunia sibuk mencari teknologi canggih untuk mengatasi dampak perubahan iklim, jawabannya mungkin justru ada di halaman belakang kita: dalam bentuk gotong royong dan kearifan lokal yang telah teruji zaman.

Saat senja mulai turun di Desa Sapen, Sarono memandang ke arah cakrawala dengan senyum puas. “Kami mungkin tidak bisa menghentikan perubahan iklim, tapi dengan kearifan lokal, kami siap menghadapinya bersama-sama,” pungkasnya.

Baca juga:  Viral, Ketua BEM UGM Sebut Gibran Anak Haram Konstitusi & Jokowi Alumni UGM Paling Memalukan Sepanjang Sejarah

Kisah petani Sapen menjadi bukti nyata bahwa dalam menghadapi tantangan global, solusi lokal seringkali menjadi yang paling efektif. Mungkin sudah saatnya kita berhenti memandang jauh ke depan, dan mulai menengok kembali ke belakang, ke akar budaya kita sendiri.

Penulis : Paksi Lalang Sambegana

Editor : Rb

Sumber Berita : Observasi

Berita Terkait

Perkokoh Persatuan, Syarief Abdullah Alkadrie Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan di Jawai
Rajut Harmoni Bangsa, Syarief Abdullah Gandeng Laskar Madura dan Santri Abdussalam Bumikan Nilai Pancasila.
Sebut Kaltim Kaya SDA, Rieke : Harusnya Seluruh Mahasiswa Bisa Kuliah Gratis
Evaluasi BPJS PBI: DPR Desak Transparansi Data Agar Hak Sehat Rakyat Tak Terputus.
Hadiri Mujahadah Kubro, Suara Bergetar Prabowo Subianto: “Seluruh Jiwa Raga Saya untuk Rakyat
Prabowo Subianto Hadiri Mujahadah Kubro Satu Abad NU: Tegaskan NU Penjaga Kedamaian Bangsa
Diseret ke Jalur Hukum, Pandji Pragiwaksono Tak Gentar: ‘Mens Rea’ Jalan Terus!
Sidak Perusahaan China, Purbaya Yudhi Sadewa Temukan Dugaan Pelanggaran Pajak
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 10:51

Syarief Abdullah Alkadrie Kebut Pembangunan Gedung DPW NasDem Kalbar: Target Segera Beroperasi

Rabu, 15 April 2026 - 14:19

Kader dan Simpatisan NasDem Kalbar Gelar Aksi, Mendesak Tempo Minta Maaf Secara Terbuka

Sabtu, 11 April 2026 - 20:26

Syarief Abdullah Alkadrie Gelar Silaturrahmi Bersama Relawan dan Sampaikan Pilar Kebangsaan

Rabu, 18 Maret 2026 - 09:27

Penutupan Festival Musik Bangun Sahur Berlangsung Meriah

Rabu, 11 Februari 2026 - 06:37

Rajut Harmoni Bangsa, Syarief Abdullah Gandeng Laskar Madura dan Santri Abdussalam Bumikan Nilai Pancasila.

Senin, 9 Februari 2026 - 13:19

Demokrat Tegaskan Pertemuan dengan Jokowi Nihil Bahasan Ijazah Palsu, Hanya Salam Hangat.

Minggu, 8 Februari 2026 - 09:41

PDI Perjuangan Berikan Respon PKB dan PAN Dukung Prabowo: Kami Hargai Independensi Partai.

Sabtu, 7 Februari 2026 - 06:10

Menembus Abad: Visi Besar Don Dasco di HUT ke-18 Gerindra Menjaga Negeri.

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x