Matakhatulistiwa.id | Melawi — Ustadz Abdul Syukur menyampaikan tausiah tentang empat macam fitnah (ujian hidup) yang terdapat dalam Surah Al-Kahfi pada kegiatan Gemar (Gerakan Masyarakat Ramaikan) Subuh berjamaah di Masjid Ibnu Taimiyah, Kabupaten Melawi, Rabu (14/04).
Kegiatan yang berlangsung usai shalat Subuh berjamaah tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting daerah, di antaranya Ketua (MUI) Kabupaten Melawi, Ketua (DMI) Kabupaten Melawi, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Melawi. Turut hadir pula pimpinan organisasi kemasyarakatan dan para pengurus masjid di wilayah Kecamatan .

Dalam tausiahnya, Ustadz Abdussyukur menjelaskan bahwa Surah Al-Kahfi tidak hanya dianjurkan untuk dibaca setiap hari Jumat, tetapi juga mengandung pelajaran mendalam tentang berbagai ujian kehidupan yang pasti dihadapi manusia. Ia menguraikan empat jenis fitnah utama yang dikisahkan dalam surah tersebut, yaitu fitnah agama, fitnah harta, fitnah ilmu, dan fitnah kekuasaan.
“Surah Al-Kahfi ini luar biasa. Di dalamnya Allah memberikan gambaran nyata tentang ujian kehidupan yang akan selalu kita hadapi. Kalau kita pahami, ini menjadi bekal agar kita tidak mudah tergelincir,” ujarnya di hadapan jamaah.
Fitnah pertama yang dijelaskan adalah fitnah agama, sebagaimana yang dialami oleh Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda yang mempertahankan keimanan mereka di tengah tekanan penguasa zalim. Mereka rela meninggalkan kampung halaman demi menjaga akidah.
“Ini pelajaran penting, bahwa mempertahankan iman itu kadang butuh pengorbanan besar. Ashabul Kahfi memilih menyelamatkan iman mereka, meskipun harus bersembunyi di gua,” kata Abdussyukur.
Selanjutnya, ia mengangkat kisah dua pemuda dalam Surah Al-Kahfi sebagai gambaran fitnah harta. Salah satu di antara mereka memiliki kebun yang melimpah, namun menjadi kufur nikmat dan sombong, sementara yang lain tetap mengingatkan agar tidak melupakan Allah.
“Ketika harta datang, di situlah ujian sesungguhnya. Ada yang semakin dekat kepada Allah, tapi ada juga yang justru lalai dan merasa semua itu hasil usahanya sendiri,” tuturnya.
Fitnah ketiga adalah fitnah ilmu, yang dicontohkan melalui kisah Nabi Musa yang diperintahkan Allah untuk belajar kepada Nabi Khidir. Dalam kisah tersebut, Nabi Musa yang merupakan nabi ulul azmi tetap harus merendahkan diri untuk menuntut ilmu.
“Ini mengajarkan kita bahwa tidak ada manusia yang paling tahu segalanya. Setinggi apa pun ilmu kita, tetap harus rendah hati dan terus belajar,” jelasnya.
Adapun fitnah keempat adalah fitnah kekuasaan, yang tergambar dalam kisah Iskandar Zulkarnain. Meski memiliki kekuasaan luas dari barat hingga timur, ia tetap berlaku adil dan bijaksana serta menggunakan kekuasaannya untuk kebaikan.
“Zulkarnain ini contoh pemimpin yang luar biasa. Dia punya kekuasaan besar, tapi tidak sombong. Justru digunakan untuk menolong dan menegakkan keadilan,” ungkap Abdussyukur.
Ia menekankan bahwa keempat fitnah tersebut sangat relevan dengan kondisi kehidupan saat ini. Menurutnya, manusia modern justru semakin dekat dengan berbagai bentuk ujian tersebut, baik dalam aspek keimanan, materi, pengetahuan, maupun kekuasaan.
“Kalau kita tidak punya pegangan, kita bisa tergelincir. Maka penting bagi kita untuk selalu kembali kepada Al-Qur’an, memahami isinya, dan mengamalkannya,” katanya.
Kegiatan Gemar Subuh berjamaah ini merupakan bagian dari upaya membumikan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah antarjamaah dan tokoh masyarakat di Kabupaten Melawi.
Salah satu panitia kegiatan menyampaikan bahwa program ini akan terus digalakkan secara rutin dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi gerakan bersama untuk memakmurkan masjid, sekaligus meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat,” ujarnya.
Dengan antusiasme jamaah yang cukup tinggi, kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi momentum kebangkitan spiritual masyarakat, khususnya dalam menjaga konsistensi ibadah dan memperkuat nilai-nilai keimanan di tengah tantangan zaman.











